Site Loader

Menumbuhkembangkan Kemampuan Berpikir Matematis dan Kemampuan Komunikasi Matematis Dengan Model Pembelajaran Two Stay- Two Stray
Siswi Nor Nugraheni1, Abdul Aziz Saefudin 2
1Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas PGRI Yogyakarta
Jl. PGRI 1 No 117 Yogyakarta
2 Dosen Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas PGRI Yogyakarta
Jl. PGRI 1 No 117 Yogyakarta
Email: 1 [email protected], 2 [email protected]

ABSTRAK
Artikel ini bertujuan memaparkan model pembelajaran Two Stay-Two Stray untuk menumbuhkembangkan kemampuan berpikir matematis dan kemampuan komunikasi matematis. Kemampuan berpikir matematis dan kemampuan komunikasi matematis dapat ditumbuhkembangkan dengan model pembelajaran Two Stay-Two Stray dalam proses pembelajaran matematika. Peserta didik yang kreatif dan komunikatif akan meningkatkan daya tarik dalam mempelajari mata pelajaran matematika dan mampu bersaing dalam kehidupan nyata. Terdapat fase-fase pada model pembelajaran Two Stay-Two Stray, yaitu: (1) class presentation, (2) Grouping, (3) Teamwork, (4) two stay, (5) two stray, (6) report team.
Kata kunci: Kemampuan berpikir matematis, kemampuan komunikasi matematis, model pembelajaran Two Stay-Two Stray (TS-TS).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Semakin pesatnya perkembangnya zaman saat ini banyak menimbulkan persaingan baik dalam dunia pemerintah, politik, ekonomi dan dalam dunia pendidikan. Persaingan yang terjadi di dunia pendidikan seharusnya dapat diantisipasi oleh semua pelajar khususnya di Indonesia. Arus teknologi yang semakin canggih kemudahan dalam akses mencari sumber belajar dan informasi yang lebih mudah, murah serta cepat sejatinya semua itu membantu anak-anak dalam belajar.Namun kenyataan yang kita hadapi, pendidikan di Indonesia masih tergolong kurang mampu disejajarkan dengan negara berkembang lainnya. Berbicara dunia pendidikan di Indonesia terdiri dari berbagai mata pelajaran tergantung dari jenjang pendidikannya. Ditinaju dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga jenjang pendidikan Menengah Atas dalam beberapa mata pelajaran yang dipandang sebagai momok bagi perserta didik adalah mata pelajaran matematika.
Matematika merupakan salah satu ilmu yang menjadi ilmu dasar bagi ilmu-ilmu yang lainnya. Dengan kata lain matematika merupakan ratunya ilmu sekaligus pelayan ilmu. Maksud dari ratunya ilmu, matematika merupakan ilmu dasar yang penting bagi perkembangan ilmu-ilmu lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan pelayan ilmu, matematika menjadi alat untuk mengembangkan kemajuan bagi ilmu-ilmu yang lain. Berdaasarkan hal tersebut, tidak bisa kita pungkiri bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sangan penting diajarkan sejak jengan pendidikan Sekolah Dasar
Matematika juga dapat melatih cara berpikir dan berkomunikasi dalam menarik kesimpulan, melalui kegiatan eksperimen, kegiatan penyelidikan, menunjukan kesamaan, perbedaan, konsistensi, inkonsistensi dan eksplorasi. Tidak heran jika kemampuan berpikir matematika menjadi tolak ukur tercapainya tujuan pembelajaran matematika, terutama kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti kemampuan berpikir kreatif, berpikir kritis, berpikir logis, dan berpikir reflektif.
Peran guru disini sangat penting dalam mengubah pemikiran peserta didik yang menganggap bahwa matematika sebagai momok, sebab hal tersebut sangat menghambat dalam proses pembelajaran. Menumbuhkan daya tarik peserta didik dalam mempelajari khususnya mata pelajaran matematikan melalui menumbuhkankembangkan kemampuan berpikir matematis peserta didik yang dibangun dengan mengasah kemampuan komunikasi matematis pada peserta didik dengan bantuan model pembelajaran Two Stay- Two Stray. Menumbuhkan berpikir matematis dalam macamnya kemampuan berpikir terbagi dari berpikir kreatif, berpikir kritis, berpikir logis, berpikir reflektif. Kemampuan berpikir kreatif pada peserta didik, artinya pembelajaran matematika tidak sekedar berhitung dan berpusat kepada guru. Diharapkan dengan adanya model pembelajaran Two Stay- Two Stray dapat menumbuhkan kemampuan berpikir matematis peserta didik serta menumbuhkankan kemampuan komunikasi matematis.

PEMBAHASAN
A. Kemampuan berpikir matematis: Kemampuan Berpikir Kreatif, Kemampuan Berpikir Kritis, Kemampuan Berpikir Logis, Kemampuan Berpikir Reflektif
1. Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis
Kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan untuk menghasilkan ide atau gagasan yang baru dalam menghasilkan suatu cara dalam menyelesaikan masalah, bahkan menghasilkan cara yang baru sebagai solusi alternatif. Indikator kemampuan berpikir kreatif matematis menurut Torrance (1969), yaitu:
a. Kelancaran (Fluency), yaitu mempunyai banyak ide/ gagasan dalam berbagai kategori.
b. Keluwesan (flexibility) mempunyai banyak ide/ gagasan yang beragam.
c. Keaslian (Originality), yaitu mempunyai banyak ide/ gagasan baru untuk menyelesaikan persoalan.
d. Elaborasi (elaboration), yaitu mampu mengembangkan ide/gagasan untuk menyelesaikan masalah secara rinci.
2. Kemampuan Berpikir Kritis Matematis
Kemampuan berpikir kritis matematis menurut Ennis (1996), yaitu Kemampuan berpikir dalam menyelesaikan masalh matematika yang melibatkan pengetahuan matematika, penalaran, dan pembuktian matematika. Indikator kemampuan berpikir kritis matematis, yaitu:
a. Memberikan penjelasan sederhana.
b. Membangun keterampilan dasar.
c. Membuat kesimpulan.
d. Membuat penjelasaan lebih lanjut.
e. Menentukan strategi dan taktik untuk menyelesaikan masalah.
3. Kemampuan Berpikir Logis Matematis
Kemampuan berpikir logis matematis adalah kemampuan berpikir dengan menggunakan logika, rasional, dan masuk akal.
a. Membuat makna tentang jawaban argumen yang masuk akal.
b. Membuat hubungan logis diantara konsep dan fakta yang berbeda.
c. Menduga dan menguji berdasarkan akal.
d. Menyelesaikan masalah matematis secara rasional.
e. Menarik kesimpulan yang logis.
4. Kemampuan Berpikir Reflektif Matematis
Kemampuan Berpikir Reflektif matematis adalah kemampuan berfikir dengan hati-hati, penuh pertimbangan yang aktif, terus-menerus, dan cermat dalam menghadapi suatu masalah matematika. Indikator kemampuan berpikir reflektif adalah:
a. Menentukan solusi/ jawaban dengan penuh pertimbangan.
b. Memeriksa kembali kebenaran jawaban.
c. Memodifikasi pemahaman dalam rangka penyelesaian masalah.
d. Mengoreksi jawaban.
e. Menyadari adanya kesalahan pada saat menggunakan keterampilan perhitungan dan memperbaikinya.

B. Kemampuan komunikasi matematis
Komunikasi matematis adalah suatu cara
berbagi ide dan mengklarifikasi pemahaman. Melalui
komunikasi, ide menjadi objek refleksi, penyempurnaan, diskusi, dan amandemen. Ketika siswa ditantang untuk mengkomunikasikan hasil pemikiran mereka kepada orang lain secara lisan atau tertulis, mereka belajar untuk menjadi jelas, meyakinkan, dan tepat dalam penggunaan bahasa matematika mereka. (NCTM, 1906)
Kemampuan komunikasi matematis adalah kemampuan menyampaikan gagasan atau ide matematis, baik secara lisan maupun tulisan serta kemampuan memahami dam menerima gagasan atau ide matematis orang lain secara cermat, analitis, kritis, dan evaluatif untuk mempertajam pemahaman. Indikator kemampuan komunikasi matematis di antaranya:
1. Menghubungkan benda nyata, gambar, grafik, dan aljabar ke dalam ide matematika
2. Menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematika secara lisan atau tulisan, dengan benda nyata, gambar, grafik, dan aljabar.
3. Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa matematika.
4. Mendengarkan, diskusi, dan menulis tentang matematika.
5. Membaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis.
6. Menyusun pernyataan matematika yang relevan dengan situasi malasah.
7. Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi dan generalisasi
C. Model Pembelajaran Two Stay-Two Stray
TS-TS (Two Stay-Two Stray) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain, di mana ada dua anggota kelompok yang tinggal dan ada dua anggota kelompok yang bertamu. (Ngalimun, 2012) mengatakan bahwa pembelajaran dengan model Two Stay Two Stray adalah siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sinkronisasi adalah kerja kelompok, dua siswa mengunjungi kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap dalam kelompok untuk menerima dua siswa dari kelompok lain, kelompok akan bekerja, dan kembali ke grup asal, kerja kelompok dalam kelompok, dan kelompok melaporkan kesimpulan.
Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Spancer Kagan (1992) (Kagan, 1992). Tahapan pada model pembelajaran TS-TS adalah sebagai berikut.

Tahapan Two Stay-Two Stray
Fase Deskripsi
Class Presentation Presentasi kelas oleh guru dimana guru menyajikan materi secara langsung kepada peserta didik.
Grouping Pembentukan kelompok yang terdiri atas 4 peserta didik yang heterogen
Teamwork Siap bekerja sama dalam kelompoknya untuk menyelesaikan masalah yang diberikan guru.
Two Stay Dua peserta didik tetap tinggal dikelompoknya dan menjelaskan hasil pengerjaan kelompoknya kepada peserta didik yang datang dari kelompok lain.
Two Stray Dua peserta didik lainnya bertamu ke kelompok yang lain untuk mencari berbagai informasi dan mendengarkan penjelasan dari kelompok lain yang disinggahi. Setelah mendengar penjelasan dari kelompok lain, dua orang yang bertamu tersebut, kemudian kembali kepada kelompoknya untuk berbagi informasiyang diperoleh kepada dua anggota lainnya.
Report Team Peserta didik mendiskusikan kembali hasil pengerjaan kelompoknya, kemudian menyusun laporan kelompok.

D. Pentingnya Model Pembelajaran Two Stay- Two Stray (TS-TS) Dalam Menumbuhkembangkan Kemampuan Berpikir Matematis Dan Kemampuan Komunikasi Matematis
Menumbuhkembangkan kemampuan berpikir matematis dan kemampuan komunikasi matematis dengan model pembelajaran two stay- two stray ini sangat diperlukan dan penting, melihat dari setiap indikator dari masing-masing kemampuannya mendukung dalam membentuk peserta didik yang lebih berkompeten. Sudah diketahui mengenai kemampuan berfikir matematis dalam macamnya kemampuan berpikir terbagi dari berpikir kreatif, berpikir kritis, berpikir logis, berpikir reflektif tentunya sangatlah berpengaruh dalam membentuk pola pikir matematis pada peserta didik dan memacu peserta didik untuk ikut aktif dalam pembelajaran karena terdapat indikatornya di setiap macam kemampuan berfikir matematis. Menurut (Artikasari, 2017) peran guru disini menjadi sangat penting untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif pada siswa, yang artinya pembelajaran matematika tidak hanya sekedar berhitung dan berpusat kepada guru. Sedangkan kemampuan komunikasi matematis juga mendukung dalam membangun dalam mempertajam pemahaman peserta didik. Oleh karena itu dapat meningkatkan daya tarik peserta didik dalam mempelajari mata pelajaran matematika.
E. Bagaimana Model Pembelajaran Two Stay-Two Stray (TS-TS) Dapat Menumbuhkembangkan Kemampuan Berpikir Matematis Dan Kemampuan Komunikasi Matematis
Perlu kita ketahui bahwa model pembelajaran Two Stay- Two Stray (TS-TS) terdapat tahapannya, yaitu: (1) class presentation, (2) Grouping, (3) Teamwork, (4) two stay, (5) two stray, (6) report team. Pada tahap class presentation dideskripsikan kegiatannya presentasi kelas oleh guru dimana guru menyajikan materi secara langsung kepada peserta didik. Pada tahap ini tentunya kemampuan berpikir matematis yang berperan dan diasah.pada tahap yang kedua Grouping dideskripsikan kegiatannya pembentukan kelompok yang terdiri atas 4 peserta didik yang heterogen. Dalam pembentukan kelompok ini yang mengatur guru secara langsung sebab guru lebih mengetahui tingkat kecerdasan pada setiap peserta didiknya supaya dalam satu kelompok tersebut heterogen.
Menurut (Monif Maulana, 2017), dalam tahap belajar hidup dan mengunjungi model pembelajaran TS-TS siswa akan mendapatkan berbagai informasi dan dapat berbagi informasi dengan siswa lain, dimana proses akan meningkatkan kekompakan dan meningkatkan kepercayaan diri siswa dan meningkatkan kemampuan berbicara siswa sehingga siswa pemahaman akan meningkat.

KESIMPULAN
Dari hasil kajian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pempelajaran matematika dengan model pembelajaran two stay- two stray dapat menumbuhkembangkan kemampuan berpikir matematis dan kemampuan komunikasi matematis sehingga meningkatkan daya tarik perserta didik terhadap mata pelajaran matematika serta mampu bersaing dalam kehidupan nyata di lingkup negara Indonesia khususnya dan internasional pada lingkup umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Artikasari, E. A. (2017, Nopember). Menumbuhkembangkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Dengan Pendekatan Contextual Teaching And Learning. Jurnal Math Educator Nusantara, hal. 74.
Kagan, S. (1992). Cooperative Learning. San Juan Capistrano. Kagan Cooperative Learning.
Monif Maulana, N. A. (2017, Desember). Two Stay Two Stray Cooperative Learning Model In Mathematics Learning Outcomes. Jurnal Daya Matematis, hal. 357.
NCTM. (1906). Executive Summary. Diambil kembali dari https://www.nctm.org/uploadedFiles/Standards_and_Positions/PSSM_ExecutiveSummary.pdf
Ngalimun. (2012). Strategi dan Model PEMBELAJARAN. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Yudhanegara, K. E. (2015). Penelitian Pendidikan Matematika . Bandung: PT Refika Aditama.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Jessica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out